Kebakaran Gambir Jakarta yang melanda permukiman padat di Jalan Batu Ceper VIII, Kebon Kalapa, pada Senin 31 Agustus 2026, menyisakan duka mendalam bagi ratusan warga. Salah satu yang paling terpukul adalah Moh Yatim (72). Dalam sekejap, rumah beserta seluruh isi miliknya ludes dilalap api, memaksa ia mengungsi dan memikirkan ulang masa depan keluarga.
Peristiwa itu bermula siang hari dari sebuah bangunan kos-kosan dua lantai. Kobaran cepat menjalar ke bangunan-bangunan di sekitarnya hingga mencakup empat RT. Data yang beredar menyebutkan 114 rumah terbakar dan sekitar 880 jiwa terdampak. Bagi pembaca di Malang dan kota padat lainnya, kisah ini menjadi pengingat betapa rapuhnya kawasan padat penduduk saat api tak terkendali.
Detik-detik kepanikan di Batu Ceper
Saat api muncul, Moh Yatim sedang berada di dalam rumah bersama anaknya. Ia mendengar ledakan dari arah depan, disusul teriakan panik dan kepulan asap. Penghuni kos berhamburan keluar sambil menangis. Suasana kian mencekam karena banyak warga kebetulan sedang menghadiri kabar duka pascapemakaman, sehingga lokasi relatif sepi.
Hanya sekitar empat orang yang ada di dekat lokasi pada momen awal. Moh Yatim sempat berusaha membantu. Ia berlari mengambil ember dan air, bolak-balik di bawah terik matahari, serta meminta bantuan tetangga. Upaya manual itu tidak mampu menahan laju api yang sudah merambat cepat ke rumah-rumah di sekitarnya.
Harta benda dan kendaraan ikut musnah
Rumah Moh Yatim akhirnya ikut hangus. Ia menceritakan tidak ada yang bisa diselamatkan: isi rumah, dompet, hingga motor yang biasa dipakai anaknya untuk bekerja turut menjadi abu. Yang tersisa hanyalah pakaian yang ia kenakan saat melarikan diri. Puing-puing bangunan menjadi saksi betapa total kerugian material yang diderita keluarga tersebut.
Kondisi serupa dialami ratusan warga lain di empat RT yang terdampak. Kepadatan bangunan, jarak antar rumah yang sempit, serta kecepatan rambatan api membuat evakuasi barang pribadi hampir mustahil. Moh Yatim kini menempati posko pengungsian sementara sambil menata ulang hidup.
Rencana pindah ke Karawang bersama keluarga
Di tengah kepedihan, Moh Yatim menyampaikan rencana jangka pendek. Setelah masa pengungsian, ia bermaksud tinggal bersama keluarga di Karawang. Pilihan itu muncul karena di lokasi lama hampir tidak tersisa aset yang bisa dijadikan pijakan, termasuk kendaraan yang menopang aktivitas kerja anaknya.
Ia mengakui tidak ada pilihan lain selain memulai dari nol. Dukungan keluarga menjadi tumpuan utama. Kisah serupa sering muncul usai bencana kebakaran di kawasan padat: korban tidak hanya kehilangan atap, tetapi juga alat kerja dan dokumen penting yang sulit diganti dalam waktu singkat.
Pelajaran untuk kawasan padat di kota besar
Kejadian di Gambir, Jakarta Pusat, memperlihatkan risiko klasik permukiman padat: akses pemadaman terbatas, bahan bangunan mudah terbakar, dan sedikitnya warga yang siap siaga pada jam-jam tertentu. Untuk warga Malang dan daerah lain yang memiliki kampung padat serupa, kesiapsiagaan dini, jalur evakuasi, serta pemeriksaan instalasi listrik dan dapur kos-kosan menjadi hal yang patut diperkuat.
- Periksa instalasi listrik dan kompor secara berkala di rumah maupun kos.
- Siapkan alat pemadam ringan dan jalur keluar yang tidak terhalang barang.
- Kenali titik kumpul dan nomor darurat pemadam setempat.
- Dokumentasikan aset penting secara digital untuk memudahkan pengurusan pascakebakaran.
Pihak berwenang di Jakarta masih menangani dampak terhadap 880 jiwa dan 114 rumah yang terbakar. Sementara itu, Moh Yatim dan warga lain menunggu kepastian bantuan serta tempat tinggal yang lebih aman. Peristiwa 31 Agustus 2026 itu menegaskan bahwa di balik angka korban, ada wajah individu yang harus membangun kembali hidup dari puing.
Pemulihan tidak hanya soal material. Trauma, kehilangan pekerjaan sampingan, dan kepastian hunian menjadi tantangan berikutnya bagi keluarga seperti Moh Yatim. Publik di berbagai daerah, termasuk Jawa Timur, dapat mengambil hikmah agar mitigasi kebakaran di kampung kota tidak lagi dianggap sepele.
Sumber: Liputan6.
