Ajang Merdeka Run 2026 di kawasan Monas, Jakarta, Sabtu (29/8/2026), tak hanya diisi ribuan pelari dengan seragam standar. Satu peserta asal Rawamangun, Jakarta Timur, justru mencuri perhatian publik ketika menempuh jarak 8 kilometer dengan kostum Spider-Man yang menutup hampir seluruh tubuh. Penampilan itu menjadi sorotan di lintasan, termasuk bagi pembaca olahraga di Malang yang kerap mengikuti perkembangan event lari nasional.
Sugitno Cahyo, 25 tahun, memastikan kostum tertutup yang dikenakannya tidak menghalangi laju larinya. Menurutnya, ia sudah terbiasa berlatih dan bertanding dengan busana serupa. Meski cuaca terasa gerah, rongga pada kostum tetap memungkinkan pernapasan tetap lancar hingga garis finis.
Alasan memilih karakter Peter Parker di lintasan
Kecintaan Sugitno pada Spider-Man bukan hal baru. Ia mengaku mengidolakan Peter Parker sejak kecil. Saat ditanya mengapa karakter tersebut dibawa ke event lari, jawabannya mengaitkan kisah patah hati yang sering melekat pada tokoh tersebut dengan kebiasaan banyak orang melampiaskan perasaan lewat olahraga lari.
“Alasannya sejak saya kecil saya benar-benar mengidolakan Spider-Man, Peter Parker. Nah, alasannya kenapa pas olahraga lari ini saya pakai Spider-Man-nya, karena kebanyakan Peter Parker itu patah hati. Nah, kebanyakan dari patah hati itu lari,” ujarnya saat ditemui di Monas.
Kebiasaan berlari sejak 2019
Olahraga lari telah menjadi bagian rutinitas Sugitno sejak 2019. Ia memandang Merdeka Run 2026 bukan sekadar ajang menjaga kebugaran atau mengumpulkan medali partisipasi. Event di Monas itu ia manfaatkan sebagai ruang menyampaikan pesan sederhana namun relevan bagi anak muda di berbagai kota, termasuk komunitas lari di Jawa Timur.
Dengan kostum yang mencolok, ia berharap perhatian publik tidak berhenti pada penampilan visual saja. Pesan utamanya mengarah pada ajakan agar generasi muda lebih aktif bergerak dan berani memperjuangkan hal yang dianggap benar, baik di lintasan maupun di kehidupan sehari-hari.
Suasana Merdeka Run di kawasan Monas
Gelaran Merdeka Run 2026 digelar di kawasan Monumen Nasional, Jakarta, dan diikuti ribuan peserta. Di tengah keramaian itu, kostum Spider-Man Sugitno menjadi pembeda yang mudah dikenali di sepanjang rute 8 kilometer. Ia menegaskan bahwa meskipun kostum tertutup, kondisi pernapasannya tetap aman berkat rongga pada material busana.
“Kalau ini saya sudah terbiasa, dan ini pun masih bisa bernapas sebenarnya. Ini ada rongga-rongganya. Sejauh ini enggak masalah sih, aman aja, tetap semangat,” katanya. Pernyataan itu menepis kekhawatiran sebagian penonton soal kenyamanan berlari dengan kostum karakter.
Inspirasi ringan bagi pecinta lari di Malang
Bagi pembaca Seputar Malang, kisah ini bisa menjadi pengingat bahwa event lari nasional sering menghadirkan wajah-wajah kreatif di luar skor waktu tempuh. Tanpa meniru format kostum yang sama, semangat menjaga konsistensi latihan sejak 2019 dan menyampaikan pesan positif lewat olahraga tetap relevan bagi komunitas lari lokal yang rutin menggelar event di sekitar Kota Malang dan kabupaten sekitarnya.
Sugitno menempatkan kostum Spider-Man sebagai jembatan komunikasi: menarik perhatian lebih dulu, lalu mengarahkan percakapan ke pentingnya bergerak aktif. Pendekatan itu, menurutnya, cocok untuk menjangkau anak muda yang akrab dengan budaya pop sekaligus perlu dorongan untuk keluar dari gaya hidup sedentari.
Pada akhirnya, penampilan berbeda di Merdeka Run 2026 memperlihatkan sisi lain dari event lari massal. Di balik kostum superhero, ada pelari yang sudah lima tahun lebih menekuni lintasan, menjaga semangat, dan memilih cara unik agar pesan olahraga sampai ke publik luas.
Sumber: Sindo News.
