Perbedaan minat di bangku sekolah menengah kejuruan kerap muncul bahkan di antara saudara kandung. Kisah siswi kembar SMK Al-Hasra, Syakirana atau Ana dan Syakirani atau Ani, menunjukkan bahwa jurusan yang tidak sama tetap bisa diarahkan ke satu rencana masa depan. Keduanya duduk di kelas XI dan memilih jalur keahlian yang berlainan, namun sudah membicarakan peluang usaha bersama.
Bagi pembaca di Malang Raya dan Jawa Timur, pengalaman mereka relevan dengan semangat lulusan SMK yang didorong siap kerja, kuliah, atau berwirausaha. Kompetensi praktik yang dipelajari sejak dini menjadi modal merancang langkah setelah lulus, tanpa harus menunggu keputusan di ujung masa studi.
Jurusan kuliner dan akuntansi di angkatan yang sama
Ana menempuh Bisnis Kuliner. Harinya banyak diisi praktik mengenal bahan, teknik pengolahan, memasak, hingga memahami pelayanan dan pengelolaan kegiatan di bidang makanan. Fokusnya pada produk, rasa, dan alur kerja dapur yang rapi.
Ani memilih Akuntansi. Ia mendalami pencatatan, pengelolaan, dan pemahaman aspek keuangan yang menopang kegiatan maupun bisnis. Pengalaman belajarnya lebih banyak menyentuh angka, laporan, dan perencanaan kas yang sehat.
Meski praktik harian berbeda, keduanya tumbuh dalam angkatan yang sama. Interaksi di luar kelas tetap terjaga, termasuk saat mengikuti tantangan konten yang menguji kekompakan menjawab pertanyaan. Dari situ tampak chemistry saudari kembar yang tetap erat meski jalur keahlian berpisah.
Rencana peran di bisnis masa depan
Di balik keseruan tantangan tersebut, muncul gambaran yang lebih serius. Ana dan Ani membicarakan niat membangun bisnis bersama. Pembagian peran sudah terbayang sejak sekarang.
Ana diposisikan di sisi produksi sebagai chef yang mengembangkan produk dan menjaga mutu kuliner. Ani merancang dirinya sebagai pengelola keuangan sekaligus finance consultant yang memastikan arus kas, pencatatan, dan perencanaan usaha berjalan terukur. Dua kompetensi SMK bertemu pada satu tujuan wirausaha.
- Ana: kreativitas dapur, pengembangan menu, dan standar kualitas produk
- Ani: pencatatan transaksi, perencanaan keuangan, dan kontrol biaya
- Gabungan keduanya: produk kuat plus tata kelola usaha yang lebih rapi
Bekal SMK dan moto BMW lulusan
SMK Al-Hasra menekankan penguasaan kompetensi jurusan sekaligus pengenalan potensi diri. Siswa didorong menyusun bayangan karier sejak masih bersekolah, bukan hanya mengejar nilai ujian praktik.
Semangat itu selaras dengan moto lulusan yang dikenal sebagai BMW: Bekerja, Melanjutkan Kuliah, dan Wirausaha. Tiga opsi tersebut memberi ruang siswa memilih atau mengombinasikan langkah setelah tamat. Bagi Ana dan Ani, jalur wirausaha menjadi titik temu yang paling mereka bicarakan.
Perbedaan jurusan tidak otomatis memisahkan jalan. Ketika keahlian dipadukan, peluang baru justru lebih mudah terbentuk. Model kolaborasi seperti ini bisa menjadi inspirasi bagi siswa SMK di berbagai daerah, termasuk yang tengah menimbang proyek usaha kecil berbasis keterampilan jurusan.
Langkah awal di kelas XI
Perjalanan menuju usaha bersama tentu masih panjang. Modal keterampilan perlu terus diasah, pengalaman magang atau praktik kerja industri dilalui, dan pemahaman pasar diuji secara bertahap. Namun memiliki sketsa peran sejak kelas XI sudah merupakan awal yang jelas.
Ana membawa bekal kuliner. Ani membawa bekal akuntansi. Keduanya menempatkan perbedaan sebagai pelengkap, bukan penghalang. Pendidikan kejuruan pada titik ini berfungsi sebagai jembatan antara ruang kelas dan rencana nyata di luar sekolah.
Kisah saudari kembar tersebut menegaskan bahwa satu mimpi wirausaha bisa dirawat dari dua meja praktik yang berbeda. Yang diperlukan adalah komunikasi terbuka, pembagian peran yang masuk akal, dan konsistensi belajar sesuai kompetensi masing-masing.
Sumber: Republika.
