Fenomena harga beras naik kembali menjadi sorotan nasional setelah data Badan Pusat Statistik (BPS) per 1 September 2026 mencatat kenaikan beruntun dari Juli ke Agustus. Di penggilingan harga naik 1,32 persen, di tingkat grosir 0,80 persen, dan di eceran 0,42 persen. Bagi warga Malang Raya yang belanja harian, angka itu terasa di kantong: tren Januari hingga Agustus 2026 menunjukkan tidak ada jeda penurunan, termasuk saat panen raya.
Kenaikan yang berlangsung berbulan-bulan membingungkan banyak pihak. Klaim swasembada, stok cadangan yang jumbo, hingga produksi yang relatif stabil seolah bertolak belakang dengan harga di pasar. Analisis pegiat ketahanan pangan Khudori menempatkan persoalan ini pada ranah struktural, bukan sekadar gejolak spekulasi sesaat.
Data BPS dan rekor stok yang tidak menekan harga
Menurut catatan yang merujuk BPS, harga beras di tiga rantai distribusi—penggilingan, grosir, dan eceran—terus bergerak naik selama delapan bulan pertama 2026. Bahkan pada puncak panen raya April 2026, ketika pasokan biasanya melimpah, harga tetap merangkak. Beras juga konsisten masuk daftar penyumbang inflasi kelompok harga bergejolak; pada Agustus 2026 perannya berdampingan dengan daging ayam ras dan cabai rawit.
Di sisi lain, stok beras di gudang BULOG dilaporkan mencapai sekitar 5,2 juta ton, volume yang disebut tertinggi dalam sejarah pengelolaan cadangan beras nasional. Pemerintah juga menyebut stok di masyarakat berada di kisaran tinggi. Namun indikasi kelimpahan itu belum tercermin pada harga eceran, sementara beras premium di ritel modern kerap sulit dijumpai dan stok penggilingan menipis dari pola bulanan menjadi harian.
Biaya pokok produksi dan harga gabah di atas HPP
Salah satu akar struktural yang diidentifikasi adalah naiknya harga pokok produksi beras seiring mahalnya gabah. Sejak kebijakan harga pembelian pemerintah (HPP) untuk gabah petani ditetapkan Rp6.500 per kilogram pada Februari 2025, harga di lapangan justru bertahan di atas ambang tersebut. Di sejumlah daerah, gabah diperdagangkan sekitar Rp7.700 per kilogram, bahkan ada yang melampaui Rp8.000 per kilogram.
Gabah adalah bahan baku langsung beras. Ketika harga bahan baku naik secara konsisten, struktur biaya penggilingan dan distribusi ikut terdorong ke atas. Akibatnya, tekanan harga tidak berhenti di petani saja, melainkan merambat ke grosir dan konsumen akhir—termasuk rumah tangga di Kota dan Kabupaten Malang yang mengandalkan beras sebagai pangan pokok harian.
Persaingan serapan gabah dan target pengadaan BULOG
Faktor kedua adalah kompetisi memperebutkan gabah yang masih ketat. BULOG terus mengejar target pengadaan setara 4 juta ton beras. Per 26 Agustus 2026, realisasi pengadaan mencapai 3,719 juta ton, terdiri atas cadangan beras pemerintah sekitar 3,65 juta ton dan skema komersial sekitar 64 ribu ton.
Di beberapa wilayah target cabang sudah terpenuhi, namun secara nasional angka 4 juta ton belum tercapai. Konsekuensinya, ruang serapan dapat digeser ke daerah yang masih berpotensi. Selama lembaga pangan negara tetap aktif menyerap, harga gabah berpotensi terus terdorong, dan rantai itu akhirnya memelihara tren harga beras naik di pasar konsumen.
- Kenaikan beruntun Januari–Agustus 2026 di penggilingan, grosir, dan eceran
- Beras konsisten menyumbang inflasi pangan bergejolak selama delapan bulan
- Stok BULOG sekitar 5,2 juta ton, tertinggi secara historis
- Harga gabah di atas HPP Rp6.500 per kg, banyak daerah Rp7.700–lebih dari Rp8.000
- Pengadaan BULOG 3,719 juta ton per akhir Agustus 2026, target 4 juta ton
Implikasi bagi konsumen dan pasar di Malang Raya
Sebagai kawasan urban dan penyangga pertanian di Jawa Timur, Malang Raya merasakan dampak kenaikan melalui harga eceran di pasar tradisional maupun ritel. Ketika stok di tingkat produsen menipis dan beras kualitas premium jarang tampil di rak modern, pilihan konsumen menyempit dan tekanan inflasi pangan rumah tangga meningkat.
Kenaikan singkat satu–dua minggu masih bisa dikaitkan dengan perilaku spekulatif. Namun pola delapan bulan tanpa jeda menuntut pembacaan yang lebih dalam: biaya produksi, arsitektur HPP, serta desain pengadaan cadangan harus dievaluasi agar sinyal stok melimpah benar-benar sampai ke harga yang dibayar warga.
Transparansi data stok di penggilingan, ritel, dan rumah tangga, ditambah koordinasi serapan yang tidak memicu perang harga gabah berlebihan, menjadi kunci meredam rantai kenaikan. Tanpa perbaikan struktural, klaim surplus dan rekor cadangan akan terus berjarak dengan pengalaman belanja sehari-hari masyarakat Malang dan daerah lain.
Pada akhirnya, stabilitas harga beras bukan hanya soal volume di gudang, melainkan soal bagaimana kebijakan harga dasar, kompetisi pengadaan, dan distribusi pasar saling menopang. Pemantauan berkala BPS, kinerja BULOG, serta daya beli konsumen daerah tetap relevan agar tren harga beras naik tidak menjadi “rekor” yang berulang tanpa solusi.
Sumber: Sindo News.
