Bantuan gempa Palue kembali diperluas setelah Tim Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa menempuh jalur laut dari Kota Maumere menuju Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Empat puluh lima paket sembako disiapkan khusus untuk warga di Dusun Nitung, Desa Nitung Lea, Kecamatan Palue, yang terdampak guncangan bumi. Perjalanan malam dan istirahat di pos relawan menjadi rangkaian logistik yang tidak mudah, namun berhasil menuntaskan penyaluran keesokan harinya.
Bagi pembaca di Malang dan wilayah Jawa Timur lainnya, kabar dari pulau terpencil ini mengingatkan bahwa pemulihan pascabencana di NTT masih membutuhkan perhatian lintas daerah. Solidaritas lewat lembaga kemanusiaan tetap relevan meski lokasi sasaran jauh dari daratan utama Flores.
Perjalanan malam dari Maumere ke Pelabuhan Palue
Tim lapangan berangkat menggunakan kapal pada malam hari. Setelah tiba di Pelabuhan Palue, mereka tidak langsung membagikan logistik. Kondisi medan dan waktu tiba memaksa rombongan menginap di pos relawan setempat sebelum distribusi dilanjutkan pagi hari.
Sulaiman Siska dari DMC Dompet Dhuafa melaporkan dari lokasi bahwa tim di Maumere telah mencapai pelabuhan, lalu beristirahat sementara. Rencana penyaluran baru dijalankan setelah kondisi memungkinkan. Pendekatan bertahap ini dipilih agar bantuan sampai aman dan penerima dapat dihubungi dengan tertib.
Penyaluran 45 paket di Desa Nitung Lea
Pada 1 September 2026, tim memastikan 45 paket bantuan logistik tersalurkan di Desa Nitung Lea. Titik sasaran difokuskan pada dusun yang warga penyintasnya masih membutuhkan pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari. Paket sembako menjadi respons cepat sambil asesmen lanjutan terus digelar.
Pantauan visual di lapangan memperlihatkan sejumlah bangunan mengalami rusak sedang. Atap dan dinding ambruk atau retak membuat rumah tidak layak huni. Warga banyak mengungsi secara mandiri, tidur di sekitar rumah dengan tenda yang berasal dari bantuan pihak-pihak peduli.
Kebutuhan mendesak menurut asesmen lapangan
Hasil asesmen Dompet Dhuafa mencatat kebutuhan yang menonjol: terpal atau tenda, matras maupun alas tidur, air minum, selimut atau kain penghangat, serta pemenuhan dasar bagi kelompok rentan. Daftar itu menjadi acuan agar bantuan berikutnya tidak hanya bersifat seremonial, tetapi menjawab celah yang masih terbuka di pengungsian swadaya.
Hingga saat pelaporan, DMC menyatakan terus mendampingi percepatan pemulihan penyintas gempa di NTT. Kehadiran tim di pulau yang harus ditempuh lewat laut menegaskan jangkauan ke wilayah yang sering kali tertinggal dari arus bantuan utama di daratan.
- Terpal dan tenda untuk perlindungan sementara
- Matras atau alas tidur yang layak
- Air minum siap konsumsi
- Selimut serta kebutuhan kelompok rentan
Suara penerima dan arah pemulihan
Salah satu penerima manfaat menyampaikan terima kasih kepada pihak yang masih peduli terhadap kondisi mereka. Ungkapan singkat itu mencerminkan rasa lega warga yang sempat menunggu bantuan tiba di dusun terpencil. Harapan yang mengemuka sederhana: penyintas dapat segera pulih dan menata kembali kehidupan sehari-hari.
Dari sisi kelembagaan, penyaluran lewat jalur laut menegaskan bahwa akses ke Pulau Palue membutuhkan perencanaan khusus, mulai dari jadwal kapal, penginapan di pos relawan, hingga distribusi pagi hari. Model kerja seperti ini penting dicatat agar respons bencana di pulau-pulau kecil NTT lebih terukur ke depan.
Bagi masyarakat Malang yang mengikuti isu kemanusiaan nasional, informasi verifikasi dari lapangan membantu memilah mana bantuan yang benar-benar menyentuh titik terdampak. Transparansi jumlah paket, lokasi dusun, dan jenis kebutuhan lanjutan menjadi bagian dari akuntabilitas publik yang diharapkan tetap dijaga.
Pemulihan pascagempa di Kecamatan Palue belum selesai pada tahap sembako. Pendampingan DMC yang masih berjalan menandakan fase berikutnya akan menyentuh aspek hunian sementara dan kebutuhan rentan secara lebih rinci, sesuai temuan asesmen di Desa Nitung Lea.
Sumber: Republika.
