Meningkatnya transaksi keuangan digital di Indonesia menuntut masyarakat, termasuk warga Malang yang aktif memakai QRIS dan mobile banking, untuk lebih cermat menghadapi ancaman kejahatan siber. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk bersama Bank Indonesia menggelar edukasi pelindungan konsumen di rangkaian BNI wondrX 2026 di ICE BSD, Tangerang, Banten, agar nasabah memahami risiko di balik kemudahan bertransaksi.
Kegiatan itu diwujudkan lewat talkshow bertajuk Strengthening Customer Protection Against Cybercrime in the Transformation Era. Forum ini menjadi bagian Gerakan Bersama Edukasi Pelindungan Konsumen atau GEBER PK, kolaborasi BNI dan BI yang menyasar pengunjung acara, termasuk pelajar, melalui diskusi panel bersama narasumber kedua institusi.
Literasi keamanan data di tengah transformasi pembayaran
Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo menekankan bahwa lonjakan aktivitas digital harus diimbangi pemahaman cara menjaga data dan transaksi. Transformasi digital memudahkan aktivitas keuangan, namun di baliknya ada risiko yang wajib diwaspadai. Edukasi dan literasi membantu masyarakat mengenali modus kejahatan siber serta lebih bijak melindungi informasi perbankan.
Deputi Direktur Departemen Surveilans Sistem Pembayaran dan Pelindungan Konsumen BI One Yusril Fikar menjelaskan inovasi seperti QRIS dan BI-FAST membuat pembayaran makin cepat, inklusif, dan efisien. Perkembangan itu diikuti munculnya beragam modus penipuan daring yang memanfaatkan teknologi maupun kelemahan psikologis korban.
Social engineering dan ciri penipuan yang perlu dikenali
Pelaku kejahatan siber sering memakai social engineering untuk mengelabui korban agar menyerahkan data pribadi atau akses rekening. Masyarakat diingatkan mengenali tanda penipuan, menjaga kerahasiaan informasi perbankan, serta tidak mudah percaya pihak yang mengaku mewakili bank atau lembaga resmi lewat pesan singkat, telepon, maupun tautan mencurigakan.
BNI mendorong publik memeriksa keabsahan informasi sebelum memutuskan transfer atau membuka tautan. Langkah sederhana itu dinilai krusial ketika menerima permintaan transaksi mendadak atau iming-iming hadiah yang tidak masuk akal. Kebiasaan verifikasi menjadi benteng pertama bagi pengguna layanan keuangan digital sehari-hari.
Kaitan dengan keterbukaan informasi dan Hari Hak untuk Tahu
Menurut Okki, rangkaian edukasi sejalan dengan komitmen BNI mendukung keterbukaan informasi kepada masyarakat. Semangat itu selaras peringatan Hari Hak untuk Tahu Sedunia setiap 28 September, yang mendorong warga memperoleh data akurat dan relevan sebelum mengambil keputusan keuangan.
Melalui kerja sama dengan Bank Indonesia, BNI berencana terus memperkokoh pelindungan konsumen dan literasi keamanan digital. Tujuannya agar masyarakat memahami cara bertransaksi aman sekaligus mampu memetakan risiko di tengah pesatnya layanan keuangan berbasis aplikasi.
Mengapa isu ini penting bagi pembaca di Malang
Meski talkshow berlangsung di Tangerang, substansinya menyentuh pengguna perbankan digital di Kota dan Kabupaten Malang yang sudah terbiasa membayar lewat QRIS di warung, kampus, maupun pusat perbelanjaan. Pemahaman modus social engineering membantu mengurangi potensi kerugian tanpa harus menunggu kasus menimpa sendiri.
- Jangan membagikan OTP, PIN, atau kata sandi kepada siapa pun.
- Periksa resmi tidaknya saluran komunikasi yang mengatasnamakan bank.
- Tunda transaksi jika ada tekanan waktu atau iming-iming tidak wajar.
- Manfaatkan kanal resmi bank untuk konfirmasi sebelum merespons tautan.
Dengan literasi yang memadai, kemudahan sistem pembayaran nasional tetap bisa dinikmati tanpa mengorbankan keamanan data. Edukasi di wondrX 2026 menjadi pengingat bahwa kewaspadaan konsumen adalah pelengkap inovasi keuangan digital yang terus berkembang.
Sumber: Tempo.
