Presiden Prabowo Subianto melanjutkan agenda diplomasi internasionalnya dengan menghadiri rangkaian hari kedua KTT BRICS di India. Fokus pembahasan diarahkan pada ketahanan bersama, inovasi, kerja sama, dan keberlanjutan demi membentuk masa depan pertumbuhan global yang lebih inklusif bagi negara berkembang maupun mitra strategis.
Kehadiran kepala negara di forum tersebut menandai komitmen Indonesia untuk aktif menyuarakan kepentingan ekonomi yang berkeadilan. Bagi pembaca di Malang dan Jawa Timur, isu pertumbuhan inklusif ini relevan karena terkait aliran investasi, perdagangan, serta stabilitas harga komoditas yang dapat memengaruhi perekonomian daerah.
Lokasi dan Agenda Sesi di Bharat Mandapam
Sesi pertemuan berlangsung di Bharat Mandapam, New Delhi, India, pada Minggu, 13 September 2026. Forum mengangkat tema Resilience, Innovation, Cooperation and Sustainability: Shaping the Future for Inclusive Global Growth. Tema tersebut menjadi kerangka diskusi para pemimpin BRICS mengenai cara memperkuat fondasi ekonomi dunia yang lebih tahan guncangan.
Bharat Mandapam dipilih sebagai venue utama agar delegasi dapat memusatkan pembahasan pada kerja sama lintas negara. Indonesia memandang forum ini sebagai ruang untuk menegaskan posisi sebagai negara yang mendorong solusi praktis, bukan sekadar wacana.
Makna Ketahanan dan Inovasi bagi Negara Berkembang
Ketahanan global yang dibahas mencakup kemampuan menghadapi tekanan ekonomi, disrupsi rantai pasok, serta tantangan perubahan iklim. Inovasi ditempatkan sebagai motor agar anggota BRICS dan mitranya dapat menciptakan nilai tambah tanpa meninggalkan kelompok rentan.
Kerja sama antarnegara diharapkan memperluas akses teknologi, pembiayaan pembangunan, dan transfer pengetahuan. Aspek keberlanjutan digarisbawahi agar pertumbuhan tidak mengorbankan lingkungan dan generasi mendatang. Pendekatan ini sejalan dengan kebutuhan daerah-daerah di Indonesia, termasuk kawasan Malang Raya yang mengandalkan pertanian, pariwisata, dan industri kreatif.
Posisi Indonesia dalam Forum BRICS
Dengan hadirnya Presiden Prabowo, Indonesia menegaskan peran aktif di meja perundingan internasional. Fokus pada pertumbuhan inklusif memberi ruang bagi suara negara-negara yang ingin memastikan manfaat ekonomi terdistribusi lebih merata, termasuk melalui peluang ekspor dan kemitraan investasi.
Bagi Jatim, stabilitas dan peluang yang lahir dari kerja sama global dapat mendukung iklim usaha lokal, dari UMKM hingga sektor manufaktur. Pemerintah daerah dan pelaku usaha di Malang dapat memanfaatkan momentum dengan memperkuat daya saing produk unggulan serta kesiapan sumber daya manusia.
- Penguatan ketahanan ekonomi menghadapi guncangan global
- Pendorong inovasi dan transfer teknologi antarnegara
- Perluasan kerja sama perdagangan dan investasi inklusif
- Integrasi prinsip keberlanjutan dalam strategi pertumbuhan
Dampak yang Diharapkan bagi Perekonomian Nasional dan Daerah
Hasil pembahasan di New Delhi diharapkan memberi arah kebijakan yang mendukung stabilitas makro dan peluang mikro bagi daerah. Ketika rantai pasok lebih tangguh dan pasar mitra lebih terbuka, produsen di Jawa Timur berpeluang memperluas jangkauan. Sektor pendidikan dan pelatihan keterampilan di Malang juga dapat menyesuaikan kurikulum agar lulusan siap menghadapi kebutuhan industri yang semakin terhubung secara global.
Meski detail kesepakatan teknis masih bergantung pada kelanjutan perundingan, arah tema yang diangkat sudah menunjukkan prioritas bersama: pertumbuhan yang tidak meninggalkan siapa pun. Media daerah seperti Seputar Malang memantau perkembangan ini karena kebijakan luar negeri kerap berimbas pada harga, investasi, dan kesempatan kerja di tingkat lokal.
Secara keseluruhan, partisipasi Presiden pada hari kedua KTT BRICS memperkuat citra Indonesia sebagai mitra yang konstruktif. Masyarakat Malang dan Jatim dapat menjadikan momentum ini sebagai pengingat bahwa diplomasi ekonomi global berkaitan erat dengan ketahanan ekonomi rumah tangga dan dunia usaha di daerah.
Sumber: Okezone.
