TERKINI
Indeks
Nasional

Perjuangan Relawan Rafki Salurkan Bantuan di Pegunungan NTT

Kisah relawan gempa NTT Muhammad Rafki Razif Kiransyah mengingatkan pembaca di Malang dan Jawa Timur betapa beratnya kerja kemanusiaan di lapangan. Sudah 24 hari ia berada di Nusa Tenggara Timur bersama Hands Foundation, menyalurkan logistik sekaligus mendampingi penyintas di sejumlah titik terdampak.

Rafki berangkat dari Jakarta pada 17 Agustus 2026 dan tiba di Labuan Bajo siang harinya. Ia memilih turun langsung agar bantuan tepat sasaran, sekaligus melihat kondisi warga dari dekat. Latar belakangnya sebagai jurnalis memperkuat niat itu: potret kehidupan pascagempa, menurutnya, hanya utuh jika diambil di lapangan.

Rute panjang menuju pegunungan Elar

Jarak antarkecamatan di NTT menjadi ujian tersendiri. Salah satu perjalanan paling berat dilalui saat distribusi ke kawasan pegunungan Elar, Manggarai Timur. Dari Reo, Manggarai, ia menempuh sekitar dua jam ke Ruteng, dilanjutkan tiga jam menuju Elar, lalu satu hingga dua jam lagi ke titik terdampak.

Total perjalanan mencapai sekitar tujuh jam. Tidak semua lokasi bisa dilalui kendaraan biasa. Ada ruas yang hanya aman dengan motor trail karena jalan berbatu, menyeberangi sungai, dan kontur pegunungan yang curam. Bagi warga Malang yang terbiasa medan dataran tinggi, gambaran ini menegaskan bahwa akses bantuan di NTT jauh lebih kompleks.

Kecelakaan di jalur berbatu dan keterbatasan BBM

Saat mengantar bantuan ke Elar dengan motor trail, Rafki sempat hampir bersenggolan dengan pengendara dari arah berlawanan, lalu terjatuh. Ia mengalami luka di tangan kanan, tangan kiri, kaki kiri, dan lutut kiri. Sesampai di posko kesehatan, luka-lukanya langsung ditangani.

Tantangan lain adalah minimnya bahan bakar. Bantuan yang terkumpul di satu titik tidak bisa dikirim serentak ke semua wilayah. Tim harus menghitung jarak dan stok BBM harian agar distribusi tetap berjalan. Rafki menekankan pentingnya mengatur pola penyaluran dari hari ke hari agar tidak terhenti di tengah jalan.

Logistik, air bersih, dan pemulihan trauma

Untuk menjangkau banyak lokasi, tim kerap mengerahkan empat mobil pikap dan satu truk. Muatan meliputi beras, air mineral, selimut, tenda, terpal, serta obat-obatan. Air mineral menjadi kebutuhan yang sulit dipenuhi di sejumlah daerah terdampak, sehingga prioritas penyalurannya harus cermat.

Selain bantuan fisik, relawan juga menggelar trauma healing bagi anak-anak dan penyintas. Kegiatan itu digelar bersama lembaga dan komunitas, antara lain Rangkul Foundation, Niqab Squad, dan Fruit Rave Journey. Pendekatan psikososial ini penting agar warga tidak hanya tertolong secara material, tetapi juga terdukung secara emosional.

  • Beras, air mineral, selimut, tenda, dan terpal
  • Obat-obatan untuk posko kesehatan
  • Pendampingan trauma healing lintas komunitas

Gempa susulan dan prinsip memberi manfaat

Nyaris sebulan di NTT, Rafki merasakan gempa susulan yang terus berulang. Catatan BMKG menyebut 14.236 gempa susulan hingga Kamis pagi terkait rangkaian peristiwa itu. Di awal, guncangan membuatnya kaget. Ia membayangkan betapa hebatnya tekanan yang dialami warga di dekat pusat gempa utama bermagnitudo 7,7.

Kekhawatiran itu, katanya, tidak memadamkan semangat menyalurkan bantuan. Prinsip yang dipegangnya sejak SMA dan masa menjadi santri sederhana: sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Semangat serupa sering tumbuh di komunitas relawan Malang Raya ketika bencana terjadi di mana pun di Indonesia.

Pengalaman Rafki memperlihatkan bahwa penyaluran bantuan pascagempa menuntut ketahanan fisik, perhitungan logistik, dan kepekaan terhadap trauma warga. Solidaritas lintas daerah, termasuk dari pembaca di Malang, tetap relevan selama proses pemulihan NTT masih berjalan.

Sumber: Liputan6.

Tag: relawan NTT, gempa NTT, Hands Foundation, bantuan korban gempa, Manggarai Timur, trauma healing, Labuan Bajo, distribusi logistik