Minat Gen Z Mao Zedong kembali menguat di kalangan anak muda Tiongkok meski sang pemimpin wafat hampir 50 tahun lalu. Di portal berita daerah seperti Seputar Malang, fenomena ini relevan dibaca sebagai potret cara generasi digital memaknai sejarah, ketimpangan, dan identitas politik tanpa harus meniru gaya media luar.
Di platform video Bilibili yang basis penggunanya didominasi usia 18–24 tahun, unggahan kompilasi film serta cuplikan drama tentang Mao mencatat jutaan penayangan. Komentar pujian seperti “hidup manusia besar” ramai muncul. Banyak penonton muda lebih nyaman memanggilnya “Guru” ketimbang menyebut nama lengkap.
Jejeak sejarah yang tetap membekas
Mao Zedong memimpin Partai Komunis dan Republik Rakyat China sejak 1949 hingga kematiannya pada 1976. Ia mengarahkan kebijakan besar seperti Lompatan Jauh ke Depan dan Revolusi Kebudayaan yang mengubah struktur ekonomi serta sosial, tetapi juga membawa korban jiwa dalam jumlah sangat besar.
Pada 1981, di bawah pengaruh Deng Xiaoping, partai menetapkan penilaian resmi yang sering diringkas “70 persen pencapaian, 30 persen kesalahan”. Potret Mao perlahan surut dari ruang publik. Reformasi pasar dan keterbukaan ekonomi menjadikan Deng simbol era baru, sementara Mao diposisikan sebagai tokoh sejarah yang memiliki keterbatasan.
Kenapa sebutan Guru kembali populer
Sebutan “Guru” merujuk pada pernyataan Mao kepada jurnalis Amerika Edgar Snow sekitar 1970. Ia menolak gelar-gelar agung Revolusi Kebudayaan dan menekankan bahwa ia selalu seorang guru. Kini anak muda mengadopsi panggilan itu di ruang daring.
Dong, pelajar di Nanjing yang akan masuk perguruan tinggi, mengaku terharu saat menonton video dua perempuan menyanyikan lagu patriotik di depan patung Mao muda di Pulau Juzizhou, Changsha. Ia dan teman-temannya aktif di komunitas diskusi isu aktual yang kerap disebut “lingkaran politik papan ketik”.
Sejak 2019, Selected Works of Mao Zedong menjadi buku paling sering dipinjam di Perpustakaan Universitas Tsinghua dan tren itu berlanjut hingga tahun-tahun berikutnya. Minat ini berbeda dari cara generasi orang tua yang lebih menerima narasi seimbang resmi partai.
Tekanan ekonomi dan rasa stagnasi sosial
Profesor Florian Schneider dari Universitas Leiden menilai perhatian muda pada Mao terkait persepsi ketimpangan kekayaan dan menurunnya mobilitas sosial. Orang tua mereka merasakan pertumbuhan yang terasa merata, sementara banyak Gen Z merasa tertinggal dari janji reformasi.
Data statistik resmi mencatat pengangguran perkotaan kelompok nonpelajar usia 16–24 tahun sempat mencapai tingkat tinggi. Istilah sehari-hari seperti “996” (kerja pukul 09.00–21.00 enam hari seminggu), “rebahan”, dan “involusi” menggambarkan kelelahan kompetisi tanpa kenaikan posisi yang sepadan.
Kritik Mao terhadap kapitalisme kemudian dibaca ulang sebagai bahasa untuk mengekspresikan ketidakpuasan terhadap dominasi modal. Sebagian menjadikan tulisannya semacam pegangan menghadapi kontradiksi hidup sehari-hari, bukan sekadar nostalgia kosong.
Batas diskusi dan pelajaran untuk pembaca Indonesia
Dong mengaku leluasa membahas Mao secara panjang, namun topik pemimpin masa kini dirasakan jauh lebih sensitif. Kajian lembaga seperti MERICS mencatat ruang percakapan daring yang rapuh akibat sensor dan swasensor, sehingga isu pemimpin sering dihindari.
Bagi pembaca di Malang dan Jawa Timur, tren ini bisa dibaca sebagai pengingat bahwa anak muda di mana pun mencari rujukan sejarah ketika menghadapi tekanan kerja, biaya hidup, dan rasa macetnya tangga sosial. Diskusi sejarah perlu tetap kritis: menghargai arsip dan angka korban, bukan mengagungkan tanpa konteks.
Platform lokal, kampus, dan ruang publik di Indonesia justru berpeluang memperkuat literasi sejarah yang seimbang—membandingkan sumber, memahami dampak kebijakan massal, dan menolak penyederhanaan berlebihan. Dengan begitu, ketertarikan pada tokoh masa lalu tidak berubah menjadi mitos yang menutupi fakta.
Pada akhirnya, kebangkitan simbol Mao di internet Gen Z China menunjukkan perpaduan nostalgia visual, keresahan ekonomi, dan keterbatasan ruang bicara politik kontemporer. Memahami lapisan itu membantu pembaca daerah melihat berita global dengan kepala dingin dan perspektif lokal yang dewasa.
Sumber: BBC Indonesia.
