TERKINI
Indeks
Nasional

OJK: Pemahaman Dana Pensiun Baru 22 Persen, Jauh dari Literasi Keuangan Nasional

Tingkat literasi dana pensiun di Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Data terbaru menunjukkan pemahaman masyarakat terhadap produk pensiun jauh tertinggal dibandingkan pemahaman keuangan secara umum, termasuk bagi pekerja dan keluarga di kawasan Malang Raya yang mulai memikirkan keamanan finansial jangka panjang.

Temuan itu disampaikan langsung oleh pimpinan OJK dalam pembukaan rangkaian edukasi nasional yang digelar awal September 2026. Angka yang dirilis menjadi sinyal bahwa akses dan pengetahuan soal tabungan hari tua belum merata, meski banyak warga sudah terbiasa memakai layanan perbankan dan produk keuangan lain.

Angka survei OJK: 22 persen versus 69 persen

Berdasarkan survei OJK, tingkat literasi dana pensiun baru mencapai 22 persen. Sementara itu, literasi keuangan nasional sudah berada di angka 69 persen. Artinya, dari 100 orang yang ditanya, sekitar 70 orang sudah memahami konsep keuangan dasar, tetapi pemahaman khusus soal dana pensiun masih terbatas pada sekitar seperlima responden.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menjelaskan gap tersebut dalam acara Kickoff Bulan Dana Pensiun 2026 pada Jumat, 6 September 2026. Ia menegaskan bahwa capaian literasi dan inklusi keuangan secara nasional relatif baik, namun sektor dana pensiun belum mengikuti laju yang sama.

Inklusi keuangan tinggi, partisipasi pensiun masih tipis

Friderica memaparkan bahwa inklusi keuangan nasional bahkan sudah menyentuh 93 persen. Masyarakat luas sudah mengakses produk bank maupun layanan keuangan lainnya. Kondisi itu belum tercermin pada dana pensiun: literasinya 22 persen, dan tingkat inklusinya juga masih rendah.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa kebiasaan menabung, bertransaksi, atau memakai kredit tidak otomatis diikuti keputusan menyiapkan pendapatan pasca-kerja. Bagi pembaca di Malang dan Jawa Timur, data nasional tersebut relevan karena banyak pekerja formal, wirausaha, serta keluarga muda yang belum terhubung dengan skema pensiun terstruktur.

Pemahaman ada, tindakan masih jarang

Menurut Friderica, salah satu tugas OJK bersama industri dana pensiun adalah meningkatkan pemahaman tentang pentingnya mempersiapkan dana pensiun sejak dini. Ia menilai sebagian masyarakat sudah mulai sadar bahwa masa pensiun membutuhkan bantalan finansial. Namun, kesadaran itu belum banyak diubah menjadi langkah konkret, misalnya mendaftar program pensiun atau mengatur alokasi rutin.

Kesenjangan antara “tahu pentingnya” dan “sudah menyiapkan” menjadi titik krusial. Edukasi yang hanya menekankan teori tanpa memudahkan akses produk berisiko membuat angka literasi naik lambat, sementara kebutuhan hari tua terus mendesak seiring perubahan demografi.

Implikasi bagi pekerja dan keluarga di daerah

Meskipun data yang dirilis bersifat nasional, dampaknya terasa hingga kota-kota seperti Malang. Pekerja swasta, pegawai institusi pendidikan, pelaku UMKM, dan keluarga dengan tanggungan anak perlu melihat dana pensiun sebagai bagian dari perencanaan keuangan, bukan sekadar produk untuk karyawan perusahaan besar.

  • Literasi dana pensiun: 22 persen
  • Literasi keuangan nasional: 69 persen
  • Inklusi keuangan nasional: 93 persen
  • Fokus OJK: edukasi dini dan dorongan aksi nyata

Dengan membuka Bulan Dana Pensiun 2026, OJK menggarisbawahi bahwa penguatan literasi harus dibarengi perluasan inklusi. Tanpa keduanya, gap antara pemahaman umum soal keuangan dan kesiapan pensiun akan tetap lebar.

Bagi masyarakat Malang Raya, momentum ini bisa menjadi pengingat untuk meninjau kembali alokasi keuangan rumah tangga, memanfaatkan informasi resmi dari OJK, dan mempertimbangkan instrumen pensiun yang sesuai profil risiko serta kemampuan menabung. Langkah kecil sejak dini dinilai lebih realistis daripada menunda hingga mendekati usia tidak produktif.

Secara keseluruhan, pesan OJK jelas: capaian literasi keuangan 69 persen dan inklusi 93 persen belum cukup jika literasi dana pensiun masih di 22 persen. Perlu kolaborasi regulator, industri, dan masyarakat agar persiapan hari tua tidak lagi tertinggal dari produk keuangan lain.

Sumber: Sindo News.

Tag: literasi dana pensiun, OJK, keuangan, Friderica Widyasari, Bulan Dana Pensiun, inklusi keuangan, persiapan pensiun, Malang