Upaya memperkuat kader posyandu Gresik kembali digelar di Pangkahkulon melalui kegiatan hands-on yang memadukan edukasi tumbuh kembang anak dengan pemberdayaan ekonomi berbasis mangrove. Program yang dijalankan Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) BIMA Universitas Hang Tuah itu menjadi sorotan bagi pembaca di Jawa Timur, termasuk Malang, karena menargetkan percepatan pencegahan stunting di tingkat keluarga.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program “Inovasi Modul SDIDTK-CISIU dan Produk Mangrove: Penguatan Kader Posyandu sebagai Trainer Keluarga Risiko Stunting untuk Percepatan Pencegahan di Pangkahkulon, Gresik.” Pendekatan terpadu ini menempatkan kader sebagai penggerak utama di komunitas, bukan sekadar penerima materi.
Fokus program dan dukungan kelembagaan
Ketua program, apt. Ersanda Nurma Praditapuspa, menegaskan harapan agar pengetahuan serta keterampilan yang didapat kader dapat diterapkan secara berkelanjutan dan diteruskan kepada keluarga di wilayah setempat. Ia menyampaikan apresiasi kepada Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemendiktik Ristek, atas dukungan yang memungkinkan program berjalan.
Menurut Ersanda, integrasi aspek kesehatan, pemanfaatan potensi lokal, dan pemberdayaan ekonomi diarahkan untuk membangun kemandirian masyarakat. Model serupa dinilai relevan dipantau warga dan praktisi kesehatan di kawasan Jatim lain yang menghadapi tantangan serupa terkait gizi anak.
Praktik modul SDIDTK-CISIU di area playground
Pada sesi praktik, dr. Ronald Pratama Adiwinoto memandu implementasi Modul SDIDTK-CISIU atau Stimulasi, Identifikasi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang. Kader dilibatkan langsung di area playground untuk melakukan stimulasi sekaligus mengamati tumbuh kembang anak.
Pengalaman aplikatif itu dimaksudkan agar kader lebih siap berperan sebagai trainer dan pendamping keluarga berisiko stunting. Dengan terbiasa melihat tanda perkembangan anak di lapangan, mereka diharapkan mampu memberi arahan yang lebih tepat kepada orang tua di lingkungan masing-masing.
Diversifikasi produk mangrove untuk ekonomi kader
Sisi pemberdayaan ekonomi digarap lewat praktik diversifikasi produk berbasis mangrove. apt. Ersanda Nurma Praditapuspa memandu pembuatan Mangrove Soy Candle, sementara apt. Yuli Ainun Najih memandu praktik Mangrove Herbal Soap. Kader juga diperkenalkan pada Mangrove Forti Sprinkle sebagai salah satu inovasi produk dalam program.
Rangkaian praktik memberi ruang bagi kader untuk mengenal potensi mangrove yang memiliki nilai guna sekaligus peluang ekonomi. Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan, menandakan ketertarikan pada kombinasi keterampilan kesehatan dan wirausaha skala lokal.
- Praktik stimulasi dan pengamatan tumbuh kembang anak di playground
- Pembuatan Mangrove Soy Candle
- Pembuatan Mangrove Herbal Soap
- Pengenalan Mangrove Forti Sprinkle
Peran kader sebagai penggerak keluarga berisiko stunting
Integrasi edukasi kesehatan dan pemberdayaan ekonomi diharapkan memperkokoh posisi kader sebagai penggerak masyarakat. Di satu sisi, mereka didorong meningkatkan perhatian keluarga terhadap tumbuh kembang anak. Di sisi lain, pemanfaatan mangrove secara produktif dapat menambah opsi penguatan ekonomi rumah tangga yang rentan.
Bagi pembaca di Malang dan wilayah Jatim lainnya, pola penguatan kader posyandu di Pangkahkulon menggambarkan bagaimana kampus dan komunitas desa dapat berkolaborasi tanpa meninggalkan potensi alam setempat. Keberlanjutan program akan bergantung pada sejauh mana materi praktik diteruskan ke keluarga dampingan.
Dengan bekal hands-on yang sudah diterima, kader posyandu di Pangkahkulon diharapkan mampu menjaga ritme pendampingan rutin sekaligus mengembangkan keterampilan produk mangrove secara bertahap. Langkah ini menjadi bagian dari rantai upaya pencegahan stunting yang bertumpu pada kapasitas lokal.
Sumber: Sindo News.
