Bagi umat Islam di berbagai daerah, termasuk Malang Raya, kalender hijriyah menjadi acuan utama penjadwalan ibadah. Sistem ini bukan sekadar daftar tanggal, melainkan penjabaran ketetapan yang tercantum dalam kitab suci mengenai jumlah bulan dalam setahun. Pertanyaan yang sering muncul adalah: mengapa tepat dua belas bulan, dan dari mana basis penentuannya?
Penanggalan Islam berpijak pada peredaran bulan. Awal setiap bulan ditetapkan melalui pengamatan hilal atau bulan sabit muda. Karena siklusnya lebih singkat dari tahun matahari, tanggal hijriyah bergeser relatif terhadap kalender Masehi dari tahun ke tahun. Pergeseran itu justru menjaga agar ibadah musiman tetap mengikuti fase bulan, bukan musim matahari.
Ayat yang Menegaskan Jumlah Bulan
Dasar paling kuat ada pada Surat At-Taubah ayat 36. Allah menegaskan bahwa bilangan bulan di sisi-Nya adalah dua belas, sesuai ketetapan sejak langit dan bumi diciptakan. Di antara keduanya terdapat empat bulan haram. Ayat tersebut juga mengingatkan agar manusia tidak menzalimi diri pada bulan-bulan yang dimuliakan itu.
Ketetapan ini memberi kerangka baku: jumlah bulan tidak berubah-ubah menurut kesepakatan manusia. Empat bulan haram menempati posisi istimewa dalam tradisi Islam; pada masa lampau, konflik bersenjata dihindari kecuali untuk membela diri. Kerangka itu tetap menjadi rujukan etika waktu hingga kini.
Mengapa Acuan Bulan, Bukan Matahari
Kalender hijriyah adalah kalender lunar. Fase bulan mudah diamati secara visual, sehingga masyarakat dapat menyepakati masuknya bulan baru tanpa perangkat rumit. Model ini cocok untuk menentukan awal Ramadan, Idulfitri, Iduladha, serta hari-hari ibadah lain yang terkait hilal.
Durasi tahun hijriyah lebih pendek sekitar sebelas hari dibanding tahun Masehi. Akibatnya, Ramadan dan hari raya berpindah musim secara bertahap. Bagi warga Malang dan Jatim pada umumnya, pergeseran itu terasa pada perubahan cuaca saat berpuasa atau saat mudik lebaran, namun tidak mengubah esensi ibadah.
Hijrah sebagai Titik Nol Tahun Islam
Sistem yang kita kenal hari ini berawal dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah pada 622 M. Perpindahan itu dipilih sebagai tonggak karena menandai babak baru komunitas Muslim yang lebih terorganisasi. Sejak itu, perhitungan tahun Islam dihitung dari momentum tersebut, bukan dari kelahiran atau peristiwa lain.
Pemilihan hijrah sebagai titik awal memberi makna historis sekaligus praktis. Umat memperoleh kalender bersama untuk administrasi, ibadah, dan catatan sejarah. Nama “hijriyah” sendiri merujuk langsung pada peristiwa itu, sehingga setiap pergantian tahun mengingatkan pada spirit perpindahan menuju tatanan yang lebih baik.
Dua Belas Nama Bulan dan Empat yang Dimuliakan
Rangkaian bulan hijriyah dimulai dari Muharram, disusul Safar, Rabiulawal, Rabiulakhir, Jumadilawal, Jumadilakhir, Rajab, Syakban, Ramadan, Syawal, Zulkaidah, dan Zulhijah. Muharram termasuk bulan haram; namanya berkaitan dengan makna “terlarang” atau dimuliakan. Di dalamnya terdapat hari Asyura yang dianjurkan untuk puasa sunah, sesuai petunjuk Rasulullah SAW.
- Muharram — termasuk bulan haram, terkait larangan dan keutamaan ibadah
- Rajab — juga bulan haram di tengah tahun
- Zulkaidah dan Zulhijah — bulan haram yang berdekatan dengan musim haji
- Ramadan — bulan wajib puasa, penentu ritme ibadah tahunan
Empat bulan haram (Muharram, Rajab, Zulkaidah, dan Zulhijah) menegaskan bahwa waktu memiliki strata nilai dalam ajaran Islam. Di luar itu, setiap bulan tetap punya fungsi ritual maupun sosial, dari persiapan Ramadan hingga rangkaian haji dan kurban.
Relevansi bagi Pembaca di Malang Raya
Di kota pendidikan seperti Malang, pemahaman kalender hijriyah membantu pelajar, keluarga, dan komunitas masjid menyelaraskan agenda pengajian, pesantren kilat, serta perayaan hari besar. Informasi hilal dan keputusan otoritas keagamaan tetap menjadi rujukan resmi, sementara pengetahuan dasar tentang ayat dan sejarah membantu publik memahami “mengapa” di balik tanggal yang diumumkan.
Dengan menempatkan Al-Quran sebagai fondasi jumlah bulan dan hijrah sebagai awal perhitungan, kalender hijriyah berdiri sebagai sistem waktu yang teologis sekaligus historis. Ia menuntun ibadah, menata memori kolektif umat, dan terus relevan di tengah kehidupan modern yang juga memakai kalender Masehi sehari-hari.
Sumber: Sindo News.
