Di tengah kerumunan massa yang menyuarakan aspirasi di kawasan Gedung DPR/MPR Jakarta Pusat, perhatian publik sempat tertuju pada seorang perempuan yang memikul tas cokelat dan membawa kantong plastik hitam besar. Ia bukan sedang mengamankan poster, melainkan memunguti sisa sampah di ruas jalan. Fokus kata kunci dukung demo damai terasa lewat pilihan peran itu: menjaga ruang aksi tetap layak dan manusiawi bagi semua pihak.
Perempuan itu bernama Sisi. Ia datang bersama suami, Reza, pada Kamis, 27 Agustus 2026. Keduanya memilih cara berbeda untuk hadir di aksi. Sisi menyusuri jalan Gatot Subroto menuju lokasi, sementara Reza mengurus pasokan makanan dan minuman dari mobil. Pembagian kerja itu mereka jalankan agar bantuan langsung terasa di lapangan.
Peran ganda di tengah massa aksi
Reza sebelumnya menyiapkan delapan dus logistik berisi makanan dan minuman, termasuk wafer, untuk dibagikan kepada peserta. Sisi, di sisi lain, menilai memungut sampah sebagai kontribusi paling maksimal yang bisa ia lakukan di lokasi. Ia ingin petugas kebersihan tidak menanggung beban berlebih setelah massa bubar.
Menurut Sisi, dukungan terhadap demonstrasi tidak harus selalu berupa berdiri membawa spanduk atau berorasi. Menyediakan kebutuhan dasar dan merapikan jalanan, baginya, sama pentingnya agar aksi tidak lekat dengan citra kotor, rusuh, atau peserta yang kelelahan karena panas dan haus.
Akses terbatas dan waktu tiba di lokasi
Sisi tinggal di Jakarta Selatan. Ia berangkat setelah menyelesaikan pekerjaan sekitar pukul 13.30 WIB. Perjalanan tidak mulus karena sejumlah ruas ditutup. Ia akhirnya masuk kawasan aksi melalui Spark, satu jalur yang masih bisa dilalui saat akses lain sudah diblokir.
Kantong plastik yang dibawanya baru mulai terisi setelah ia benar-benar mencapai titik demonstrasi. Situasi itu menggambarkan betapa logistik kecil seperti kantong sampah dan tenaga relawan tetap krusial ketika mobilitas massa dibatasi pengamanan.
Bukan pertama kali, tapi peran berubah
Kehadiran Sisi di kawasan DPR/MPR bukan debut. Pada Agustus tahun sebelumnya ia lebih banyak bergabung sebagai massa yang menyuarakan tuntutan. Tahun ini ia dan Reza datang dengan pembagian tugas yang lebih tegas: satu fokus kebersihan, satu memastikan bantuan sampai.
Mereka juga sudah membicarakan risiko sebelum berangkat. Selama yang dibela dinilai benar dan halal, kemungkinan terkena dampak kericuhan atau sakit sempat mereka sepakati sebagai konsekuensi yang siap dihadapi. Sikap itu mencerminkan kesadaran warga sipil yang ingin aksi tetap dilindungi undang-undang dan berlangsung aman.
Aspirasi didengar, bukan hanya kerumunan
Bagi Sisi, membantu semacam ini sudah menjadi bagian dari caranya menjadi warga negara. Ia menekankan bahwa inti tuntutan masyarakat sejak lama relatif sederhana: ingin didengar dan ditanggapi, serta ada ruang duduk bersama dengan pihak yang berwenang. Tanpa dialog, kerumunan hanya berulang tanpa titik temu.
Pesan itu relevan pula bagi pembaca di Malang dan Jawa Timur yang kerap menyaksikan aksi sipil di tingkat lokal maupun nasional. Menjaga ketertiban, kebersihan, dan logistik relawan adalah bentuk partisipasi yang menekan stigma negatif tanpa meniadakan hak menyampaikan pendapat.
Dengan pilihan memunguti sampah dan menyalurkan makanan, Sisi serta Reza menampilkan wajah demonstrasi yang lebih utuh: bersuara, saling jaga, dan meninggalkan lokasi dalam kondisi yang tidak memberatkan pihak lain. Model dukungan semacam ini layak dicatat sebagai contoh praktik warga di aksi publik.
Sumber: Liputan6.
