Kasus salah isi BBM masih sering menimpa pengendara, termasuk di kawasan Malang Raya yang mobilitasnya padat setiap hari. Saat buru-buru di SPBU, jenis bahan bakar kerap terlewat dicek, padahal setiap mesin dirancang untuk spesifikasi BBM tertentu. Kesalahan ini tidak sekadar membuat laju kurang nyaman, melainkan dapat memicu gangguan serius pada komponen internal.
Pabrikan menetapkan angka oktan atau jenis bahan bakar agar pembakaran berlangsung stabil. Jika spesifikasi itu diabaikan, tenaga menurun, konsumsi boros, dan risiko kerusakan jangka panjang meningkat. Memahami dampak serta langkah penanganan menjadi bekal penting bagi pemilik mobil di Malang maupun wilayah lain.
Mengapa jenis BBM harus sesuai spesifikasi mesin
Bahan bakar menentukan cara kerja ruang bakar. Pada mobil bensin, angka Research Octane Number (RON) seperti 92 atau 95 membantu pembakaran lebih terkontrol sehingga tenaga tetap optimal dan keausan komponen bisa ditekan. Sementara mesin diesel mengandalkan solar yang terbakar lewat kompresi tinggi tanpa busi.
Karena prinsip kerjanya berbeda, bensin dan solar tidak bisa saling menggantikan. Solar juga berfungsi sebagai pelumas pada pompa bertekanan tinggi dan injektor diesel. Mengabaikan perbedaan ini membuka peluang kerusakan yang biayanya bisa mencapai jutaan rupiah.
Dampak oktan rendah hingga tertukar bensin dan solar
Pada mobil bensin, mengisi BBM beroktan lebih rendah dari rekomendasi pabrikan sering membuat pembakaran kurang sempurna. Gejala yang muncul antara lain tenaga terasa lemah, konsumsi meningkat, serta knocking atau ngelitik. Jika berlangsung lama, sistem injeksi dan pompa bahan bakar ikut terbebani di luar desain pabrik.
Kondisi lebih parah terjadi bila tangki bensin terisi solar. Mesin mungkin masih hidup sebentar berkat sisa bensin di saluran, lalu tersendat, kehilangan tenaga, dan mati. Memaksa kendaraan terus melaju berisiko merusak komponen internal hingga kerusakan berat.
Sebaliknya, bensin di mesin diesel menghilangkan sifat pelumas yang dibutuhkan solar. Gesekan berlebih pada pompa dan injektor mempercepat keausan. Kendaraan bisa sulit dihidupkan, mogok, dan menelan biaya perbaikan sistem injeksi yang tidak murah.
Gejala yang perlu diwaspadai setelah pengisian
Pengendara di Malang yang baru selesai mengisi BBM sebaiknya peka terhadap perubahan perilaku mesin. Beberapa tanda yang sering muncul meliputi getaran kasar, suara tidak wajar, akselerasi lemah, mesin tersendat, asap knalpot menghitam, suhu meningkat, hingga mesin tiba-tiba mati atau susah distarter ulang.
- Mesin kasar atau bersuara abnormal
- Tenaga hilang saat gas diinjak
- Konsumsi bahan bakar melonjak
- Asap hitam dan suhu mesin naik
Bila gejala muncul segera setelah pengisian, kemungkinan besar jenis BBM tidak sesuai. Jangan menunda pemeriksaan agar kerusakan tidak merambat ke komponen lain.
Langkah penanganan dan pencegahan di SPBU
Jika kesalahan diketahui sebelum mesin dihidupkan, jangan nyalakan kendaraan. Dorong atau derek mobil ke bengkel agar tangki dikuras sebelum bahan bakar masuk ke sistem pembakaran. Apabila mesin sudah sempat hidup atau sempat berjalan, segera menepi di tempat aman, matikan mesin, dan hindari memaksa laju.
Hubungi bengkel resmi atau layanan darurat untuk pengurasan tangki, pembersihan saluran, serta pemeriksaan pompa, injektor, dan komponen terkait. Pencegahan tetap paling murah: cek rekomendasi di buku manual, stiker tutup tangki, atau label di lubang pengisian, lalu pastikan nozzle yang dipakai petugas SPBU sudah sesuai sebelum BBM mengalir.
Bagi pengendara yang rutin melintasi jalur kota dan luar kota di sekitar Malang, kebiasaan mengecek jenis BBM sebelum mengisi membantu menjaga performa, efisiensi, dan umur mesin. Kesalahan kecil di pompa bensin bisa berujung pada perbaikan mahal jika dibiarkan berlarut.
Sumber: Antara.
